Bayi Aurel Hermansyah Didoakan Terlahir CACAT, Atta Halilintar Langsung Breaksi


Keluarga Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar sedang dilingkupi kebahagiaan karena bakal mendapat seorang bayi.

Saat ini, Aurel Hermansyah sedang hamil untuk kali kedua setelah sempat keguguran.

Di tengah kebahagiaan putri Krisdayanti, Ashanty dan Anang Hermansyah itu sedang hamil, Atta Halilintar malah mendapat kabar tak mengenakkan.

Penyebabnya, ada seseorang yang mendoakan anak Aurel Hermansyah itu terlahir cacat.

Atta Halilintar mengakui sebelumnya dia tidak mengetahui kabar ada orang yang mendoakan anak Aurel Hermansyah cacat seperti itu.

Hal ini dikutip dari kanal Youtube Intens Investigasi yang diunggah pada 3 September 2021.

Ketika ditanya mengenai tanggapannya oleh wartawan, Atta Halilintar tidak mau terlalu menanggapinya.

Menurut Atta Halilintar apa yang dilakukan orang tersebut memang sudah keterlaluan.

"Belum lihat aku ya," ucap Atta Halilintar.

Pihak wartawan yang mendesak tanggapan Atta Halilintar pun memperlihatkan video yang dimaksud.

"Saya baru tahu ya, kalo memang ngomongnya nggak bener menurut saya ini salah, ini melanggar juga ya," ucap Atta Halilintar.

Wartawan pun bertanya terkait pernyataan yang sudah menyinggung calon bayi.

"Itu bahaya, maksud saya bahaya untuk dia," ucap Atta Halilintar.

"Pokoknya orang yang ngomong tidak baik mengenai orang lain, hukum Tuhan kita lihat aja," papar Atta Halilintar.

Lebih lanjut, Atta Halilintar belum mau membawa kasus tersebut ke pihak berwajib.

Bolehkah Mendoakan Keburukan untuk Orang Lain?

Bolehkah seseorang mendoakan keburukan bagi orang lain yang menyakitinya serta bersyukur jika doa tersebut dikabulkan?

Ustadz Adi Hidayat melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official memberikan jawaban mengenai hal tersebut.

Dia mengatakan bahwa hal ini dijelaskan oleh firman Allah dalam surah ketiga Al-Qur'an, yakni surah Ali Imran ayat 128.

Sebelum menjelaskan lebih detail, Ustadz Adi Hidayat terlebih dahulu memberikan gambaran kisah yang menjadi penyebab diturunkannya ayat tersebut.

Pada masa awal dakwah, Nabi Muhammad SAW kedatangan satu utusan. Utusan itu mengatakan bahwa semua masyarakat di desanya telah masuk Islam.

Rasulullah pun senang mendengar hal tersebut dan meminta agar seorang da'i dikirim untuk mengajar di desa itu.

Dalam riwayat disebutkan bahwa da'i yang dikirim adalah sekitar 70 orang.

Para da'i yang dikirim terdiri dari penghafal Al-Qur'an, ahli Qur'an, serta orang-orang yang menguasai agama dengan baik pada masa itu.

Singkat cerita, ketika para da'i sampai di distrik Bi'r Maunah, mereka tiba-tiba dianiyaya dan bahkan dieksekusi.

Nabi Muhammad kemudian mendapat kabar mengenai penganiayaan dan eksekusi itu dari malaikat ketika sedang sholat.

Rasulullah pun mendoakan orang-orang yang telah menipunya dan menganiaya para da'i dengan keburukan.

Rasulullah kurang lebih meminta agar Allah melaknat dan menghukum orang-orang tersebut. Nabi terus berdoa demikian selama satu bulan lamanya.

Selanjutnya, Allah SWT menurunkan surah Ali Imran ayat 128 yang berbunyi:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ

Tafsir ayat tersebut sesuai penjelasan Ustadz Adi Hidayat adalah sebagai berikut:

"Muhammad SAW, engkau tidak punya hak untuk bisa memutuskan suatu perkara terkait dengan hukuman atau pun memberi petunjuk kepada seseorang (yang dimaksudkan yakni langsung menanamkan hidayah kepadanya), kecuali itu atas izin Allah SWT."

Ustadz Adi Hidayat memaparkan bahwa inilah sifat maksum Nabi Muhammad. Jika ada sesuatu yang kurang tepat, Allah akan langsung meluruskannya.

Hikmah dari peringatan Allah itu adalah jika Nabi sudah mendoakan keburukan bagi musuh, umatnya bisa jadi tidak tersisa seperti umat-umat terdahulu.

Saat umat berbuat zalim, nabi-nabi terdahulu berdoa agar Allah untuk menghukum dan dikabulkan. Maka selesailah umat tersebut.

Lewat surah Ali Imran ayat 128, Allah memberi pelajaran pada Nabi Muhammad bahwa ke depannya akan ada ujian yang lebih besar.

Setelah mendapat peringatan itu, Rasulullah pun mengubah doanya.

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّ مَاقَضَيْتَ، فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Doa tersebut kemudian dikenal sebagai doa qunut yang berarti permintaan akan segala hal yang bernilai ketaatan kepada Allah dan bersifat baik-baik.

Ustadz Adi Hidayat menyimpulkan bahwa jika Allah saja mengarahkan Rasulullah untuk mendoakan perilaku buruk dengan kebaikan, umatnya lebih layak untuk mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW tersebut.

Jadi, sebaiknya seseorang tidak mendoakan keburukan untuk orang lain meski orang tersebut telah berperilaku buruk padanya.

Sebaliknya, orang tersebut sebaiknya justru mendoakan yang baik-baik.

Sementara, dalam bahasan berbeda, Sayyid Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitabnya Risalatul Mu'awanah wal Mudzaharah wal Muwazarah memberikan penjelasan.

"Jangan sekali-kali mendoakan datangnya bencana atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, sebab siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: 'Jangan mendoakan bencana atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan saat pengabulan doa oleh Allah SWT'."

Jika kita mendapatkan keburukan dari orang lain, tidak sepantasnya kita balas dengan keburukan juga. Sangat dianjurkan membalas keburukan dengan doa yang baik.

Kemudian, melaknat orang lain bisa saja sama dengan mendoakan diri sendiri. Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan jika Allah berkehendak mengabulkan, bisa jadi laknat terhadap orang lain justru berbalik melanda kita.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Sayyid Abdullah Al Haddad.

"Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari mulut seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, lalu ia menuju ke arah orang yang dilaknat jika ia memang patut menerimanya, atau jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya."

Sumber: Banjarmasinpost

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel